Archive for the ‘faruq dan Ali’ Category

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi
11. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

TAJARRUD

Pendahuluan.

Allah SWT memuji kaum muhajirin dan kaum anshor dengan kalimat radhi Allahu ‘anhum wa radhu ‘anhu (Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah) Q 9:100. Inilah puncak dari segala pujian dari Sang Pencipta kepada hamba-hambanya, ketika Dia meridhai semua yang telah mereka lakukan.

Apa yang menjadikan Allah SWT ridha kepada mereka?

Dalam Q 8:74 Allah menggambarkan karakteristik mereka. “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.

” Beriman, berhijrah, berjihad di satu sisi dan memberi tempat kediaman dan pertolongan di sisi lainnya. Mereka menikmati perjuangan dan pengorbanan hidup demi kejayaan dakwah Islam. Totalitas dakwah – tajarrud.

Sebelum kita membahas mengenai Tajarrud, mari kita perhatikan 2 ayat berikut ini :

“Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tak ada sekutu bagi Nya dan begitulah aku (Muhammad) diperintah. Aku adalah orang muslim pertama.” (Al-An’aam: 162-163).

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar mencintai Allah) ikutlah aku, niscaya Allah swt. mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu,”Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Ali Imran, 2:31).

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah sesuai dengan 2 ayat di atas, dan apa yang harus kita lakukan?

Defenisi

1. Menurut Bahasa.

Lafal “Al Juradah” artinya sesuatu yang dikelupas dari sesuatu yang lain.

Lafal “At-Tajrid” artinya melepaskan pakaian.

Lafal “At-Tajarrud” artinya bertelanjang. Sedang Lafal “Tajarrud lil Amri” artinya bersungguh-sungguh pada suatu    urusan.

2. Menurut Syariat

Menurut Imam Hasan Al Banna : “Engkau harus tulus pada fikrahmu dan membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah”.

Tajarrud, menurut Al-Fadhil Ustaz Fathi Yakan di dalam karangannya “Ma Za Ya’ni Intima’ Lil Islam” : “Tajarrud bermakna saudara mestilah ikhlas terhadap fikrah yang saudara dukung”.

(Mahfuz Sidik) : “Adalah totalitas dan kesinambungan amal jihadi yang kita lakukan sehingga Allah meringankan dakwah ini, dan hingga kita berjumpa dengan Nya kelak. Bagi kader yang sudah menikah, tajarrud adalah melibatkan keluarga dalam dakwah dan jihad. Bukan meninggalkan mereka, sehingga terabaikan hak-haknya”.

Jadi secara umum Tajarrud adalah : “ Mengkhususkan diri untuk Allah swt dan berlepas diri dari segala sesuatu selain Allah. Yakni menjadikan gerak dan diam serta yang rahasia dan yang terang-terangan untuk Allah swt semata, tidak tercampuri oleh keinginan jiwa, hawa nafsu, undang-undang, kedudukan, dan kekuasaan”.

Pembahasan.

Ketika kita menyeru (mendakwahkan) Islam kepada manusia, kita menyeru semata-mata hanya demi Allah swt. bukan untuk kelompok semata, organisasi atau partai. Kita menginginkan umat untuk membawa pemikiran dan ide-ide Islam. Kelompok hanya sebagai sarana bukan tujuan. Oleh karena itu kita tidak seharusnya menyeru umat hanya demi kelompok yaitu dengan mengajak mereka untuk bergabung dengan kelompok kita.

Ada kekeliruan persepsi mengenai makna totalitas dakwah (tajarrud) ini, dimana kader dakwah harus meninggalkan semuanya untuk dakwah. Padahal pengertian yang tepat adalah ketulusan pengabdian kader dakwah untuk membawa semuanya demi kejayaan dakwah. Misalnya ketika kemampuan dan kecenderungan seorang kader adalah analysis, synthesis, dan evaluasi bidang ekonomi, maka kader tsb tidak diminta meninggalkan itu semua dan masuk fakultas syariah sehingga bisa mengajarkan Islam. Tapi yang diinginkan adalah bagaimana caranya agar kemampuan dan kecenderungan tsb dapat dimanfaatkan se-optimal mungkin demi kejayaan dakwah.

Pada masa Rasulullah SAW, ketika sedang marak-maraknya berbagai pertempuran, banyak kader yang ingin terjun dalam jihad qital ini, termasuk Zaid bin Tsabit. Pemuda kecil ini ketika diuji kekuatan fisiknya, gagal, sehingga ia kecewa sekali. Seolah ia tidak mampu memberikan kontribusi apa-apa demi kejayaan dakwah Islam. Pada kesempatan test berikutnya, ia coba lagi. Namun gagal lagi. Pada saat kekecewaannya memuncak, Rasulullah SAW menganjurkannya untuk mempelajari bahasa. Ternyata disitulah bakatnya, disitulah competitive advantage-nya sampai ia diangkat menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Disitulah ia menemukan jati dirinya karena bisa membawa semua kemampuannya demi kejayaan dakwah meskipun bukan melalui sisi yang populer. Dan masih banyak contoh lagi.

Kesimpulannya, ketika kita memiliki sifat tajarrud, tanda-tandanya adalah :

Tulus dan Ikhlas dalam dakwah.

Selalu menilai orang lain, organisasi, dan segala sesuatu dengan timbangan dakwah (melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas). Konsep Pemikiran Ikhwan Hal 190.

Mempersembahkan jiwa dengan mudah (tanpa rasa takut) di jalan Allah.

Orang yang menegakkan Islam Di dalam hatinya.

Selalu Tawakkal secara mutlak kepada Allah.

dan, Apakah kita sudah memiliki sifat Tajarrud?

disusun dari berbagai sumber….



Pada hari sabtu yang lalu, tepatnya tanggal 16 Mei 2009, sekolah Faruq (TK Bunayya 1) mengadakan kegiatan Outbond Bumi Perkemahan Sibolangit.

Berikut ini dokumentasinya

16-05-09_1155Faruq bersama bu guru

nih video faruq berjalan

16-05-09_1204jaring laba-laba, “sempit”

(lebih…)

Alhamdulillah setelah menunggu dan berjuang lama, akhirnya istri saya melahirkan  putra kami yang ketiga. Kami memberinya nama Ahmad Shiddiqy Margolang. Faruq dan Alipun memiliki seorang Adik yang lucu.

ali160409e

Rumah kami menjadi  lebih “ramai”, lebih sering terdengar tangisan baik itu  dari yang terkecil, sedang, maupun yang paling besar dari mereka. Ali belum begitu “faham”, sehingga tindakannya sering sekali “agak” membahayakan bagi adiknya.

ali160409a

ali160409b

ali-150409

Apapun tindakan mereka namun mereka sangat menyayangi Adik mereka.

faruq-ali-dan-shiddiqy1

ali160409d

ali160409c

Tentunya tanggung jawab lebih besar dalam hal mendidik untuk keberhasilan mereka dunia dan akhirat.

Doakan kami ya………..

“Biarkan saja mereka, nanti juga mereka akan meninggalkan kita. Nimati saja. Suatu saat kita akan merindukan saat ini”, kata Bunda Faruq. (kutipan sehari-hari di rumah). Dialog ini ditujukan buat saya ketika kesal atau marah kepada anak-anak di rumah. Saya menjadi malu jika teringat apa yang dikatakan oleh istri.

Saya bangga melihat mereka. Kalau dibandingkan dengan senior-seniornya, memang mereka masih tampak “norak”, tidak percaya diri, serba ragu-ragu dan takut-takut. Namun dibalik wajah-wajah “kampung” itu, saya melihat proyeksi masa depan mereka yang cukup cerah. Saya melihat wajah-wajah pemimpin dunia penerbangan masa depan di wajah-wajah mereka, dan itu membuat saya bangga. Sebagai dosen di STPI, saya bangga, karena suatu saat kelak saya pasti akan dapat menunjuk salah satu pemimpin dunia penerbangan di negeri ini sambil berkata “Dia adalah muridku, yang dulu waktu masuk STPI tampangnya jelek.” Insyaallah. kutipan dari http://wisnudarjonotu.blogspot.com/2007/09/taruna-baru.html. Beliau adalah salah seorang dosen ketika saya masih mengikuti pendidikan di Curug dulu.

Banyak sekali, mungkin (mudah-mudahan tidak, red) kita semua merasa tidak nyaman dengan kondisi yang sedang dialami. Saya menuliskan postingan ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari sebagai pembelajaran di kala kesabaran itu mulai menjauh dari genggaman.

Prolog di atas mengingatkan saya bahwa apa yang kita anggap masalah  pada saat ini, suatu saat itu bisa menjadi kenangan yang ingin kita ulangi (kita tidak akan mendapatkan kesempatan kedua).   Katanya nikmati saja proses yang kita hadapi sekarang ini, ternyata itu tidaklah  mudah.

(lebih…)

Seminggu yang lalu, kami sekeluarga menemani Faruq dalam acara peringatan 1 Muharram 1430 H di sekolah Faruq, tepatnya TK Bunayya 1 Medan, Jl. Setia Budi Medan.

Faruq; di luar dugaan kami; ikut dan berani tampil dalam acara tersebut. Beliau ikut dalam kegiatan menari. Subhanallah.

Berikut ini foto-fotonya

bunayya2

Faruq yang mana ya? Ayo tebak!

bunayya1nah ini dia, ada di belakang

bunayya4Menunggu pesanan pisang goreng di Bazar yang diadakan sekolah

bunayya3

Sebelum pulang ke rumah

 

julfan.wordpress.com mengucapkan :

“Selamat tahun baru Hijriah 1430 H, semoga kita semakin baik”